SUKABUMITIMES.COM – Operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran terus digencarkan di sebuah fasilitas pengelolaan sampah di Desa Binaliw, Kota Cebu, setelah longsoran material sampah dan puing bangunan menimbun para pekerja pada Jumat sore.
Hingga Sabtu (10/1/2026), otoritas setempat mengonfirmasi sedikitnya dua orang tewas, belasan luka-luka, dan sekitar 36 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Peristiwa tragis ini terjadi secara tiba-tiba meskipun cuaca di lokasi dilaporkan dalam kondisi cerah. Gunungan sampah, tanah, dan puing-puing material runtuh menimpa fasilitas pemilahan dan bangunan rendah di sekitarnya.
Direktur Kepolisian Regional, Brigadir Jenderal Roderick Maranan, menyatakan bahwa korban tewas pertama adalah seorang pekerja perempuan yang mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Sementara itu, Wali Kota Cebu, Nestor Archival, mengonfirmasi temuan jenazah kedua pada Jumat sore, yang diidentifikasi sebagai seorang insinyur berusia 25 tahun.
“Sebanyak 13 orang berhasil diselamatkan hidup-hidup sepanjang malam, namun luka-luka yang diderita cukup serius,” ujar Maranan dalam keterangannya kepada media.
Jaylord Antigua (31), seorang pegawai kantor di fasilitas tersebut, menceritakan detik-detik mencekam saat kantor tempatnya bekerja hancur seketika.
Ia berhasil selamat setelah merangkak keluar dari tumpukan puing dengan luka di wajah dan lengan.
“Saya melihat sebuah cahaya dan merangkak ke arah sana secepat mungkin. Saya takut akan ada longsoran susulan. Ini adalah kehidupan kedua bagi saya,” ungkap Antigua dengan nada traumatis.
Pemerintah Kota Cebu bersama Kantor Pertahanan Sipil menegaskan bahwa pencarian akan terus dilakukan hingga seluruh dari 110 pekerja di fasilitas tersebut terdata.
Foto-foto dari lokasi menunjukkan alat berat dikerahkan untuk menyisir reruntuhan bangunan yang hancur, termasuk gudang tempat pemilahan sampah daur ulang.
Wali Kota Archival memastikan bahwa pihaknya akan mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam menangani bencana ini.
“Kami menjamin bantuan penuh empati bagi keluarga korban seiring berlanjutnya operasi evakuasi,” tulisnya melalui pernyataan resmi di Facebook.
Tragedi di Binaliw ini kembali memicu kekhawatiran terkait standar keselamatan di tempat pembuangan akhir (TPA) di Filipina. Kejadian serupa yang paling mematikan tercatat pada Juli 2000 di Kota Quezon, di mana longsoran sampah menewaskan lebih dari 200 orang.
Saat ini, keluarga korban masih menunggu dengan cemas di sekitar lokasi kejadian, berharap mukjizat bagi puluhan pekerja yang masih tertimbun di bawah gunungan sampah dan puing material. (*/sya)

























